Rabu, 18 April 2012

Macam- Macam Tes dalam Bimbingan dan Konseling (Intelligensi, Bakat, dan Minat)

Pentingnya Mata Kuliah Praktikum Pemahaman Individu Teknik Testing bagi Pengurus BK
Agar layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada konseli dapat tepat dan terarah, pembimbing atau pentugas BK harus memahami keadaan klien terlebih dahulu. Untuk dapat memahami klien, petugas BK harus mempunyai data-data atau keterangan tentang klien tersebut. Data-data atau keterangan tersebut didapat melalui teknik testing maupu teknik non-testing. Teknik testing adalah teknik memahami individu dengan tes sebagai instrumennya. Sedangkan teknik non-testing adalah teknik memahami individu dengan non-test sebagai instrumennya. 
Untuk dapat memahami individu dengan sebaik-baiknya, maka pembimbing atau petugas BK perlu mengumpulkan berbagai keterangan atau data tentang masing-masing individu, yang dapat diperoleh melalui kegiatan pengukuran dan asesmen psikologis melalui pemahaman individu teknik testing.
Pengukuran dapat diartikan sebagai prosedur pemberian seperangkat tugas atau persoalan secara sistematis untuk memperoleh gambaran tingkah laku, sifat-sifat atau atribut psikologis/ pendidikan dari individu secara representatif dan hasilnya dikelempokkan dengan sistem angka atau cara tertentu. Sedangkan asesemen adalah proses pengumpulan dan diskusi tentang data atau informasi yang diperoleh dari berbagai sumber untuk memahami secara mendalam tentang individu termasuk karakteristik, keadaan, kemajuaan, dan capaiannya.


Data maupun keterangan yang terkumpul akan menentukan tingkat pemahaman individu dan jenis bantuan yang akan diberikan. Melalui pemahaman tersebut, individu dapat memperoleh layanan bantuan yang tepat dan terarah. Pemahaman individu ini merupakan salah satu langkah yang harus dilaksanakan oleh pembimbing atau petugas BK.
Praktik Pemahaman Individu Teknik Testing ini diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa BK yang nantinya menjadi petugas BK untuk mempraktikkan penerapan teknik pemahaman individu dengan tes.
Oleh karena itu, pemahaman individu teknik testing ini sangat penting bagi petugas BK maupun calon petugas BK, karena diharapkan nantinya petugas BK mampu memahami hakikat, fungsi, dan tujuan teknik-teknik testing untuk kepentingan pengajaran dan bimbingan serta mampu memahami individu dengan teknik-teknik yang dipakai dalam bimbingan dan konseling.

B. Kedudukan Mata Kuliah dalam Kerangka Kompetensi BK
Untuk mengetahui bagaimana kedudukan mata kuliah Praktik Pemahaman Individu Teknik Testing dalam Kerangka Kompetensi BK di sekolah, maka terlebih dahulu perlu diketahui apa kompetensi petugas BK tersebut.
Dalam BCC disebutkan bahwa profil kemampuan dasar konseling sekolah adalah :
1. Menguasai bahan bimbingan, 
2. Mampu mengelola layanan bimbingan, 
3. Mampu mengelola layanan konseling, 
4. Mampu menggunakan media dan sumber-sumber bimbingan, 
5. Mampu menyelenggarakan administrasi bimbingan di sekolah, 
6. Mampu melaksanakan tugas-tugas bimbingan yang berkaitan dengan pengajaran, 
7. Menguasai landasan-landasan kependidikan/bimbingan, 
8. Memahami proses pengajaran, 
9. Memahami asas-asas penelitian dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan/bimbingan guna keperluan bimbingan dan konseling. 

Masing-masing kemampuan (kompetensi) dasar tersebut dibagi-bagi lagi atas beberapa subkompetensi. Di sini hanya akan dibicarakan sub-subkompetensi untuk kompetensi mampu mengelola layanan bimbingan (kompetensi no. 2). Adapun sub-subkompetensi untuk kompetensi 2 tersebut adalah :
2.1. Memberikan layanan bimbingan kepada individu (siswa).
2.2.   Bekerja sama dengan guru sehubungan dengan tugasnya dengan murid.
2.3.   Bekerja sama dengan kepla sekolah sehubungan dengan tanggung jawabnya terhadap murid.
2.4.   Bekerja sama dengan orang tua sehubungan dengan tanggung jawabnya terhadap murid/anak.
2.5.   Bekerja sama dengan masyarakat/industri/lembaga luar.
2.6.   Mengevaluasi hasil guna layanan bimbingan.

Masing-masing subkompetensi dibagi-bagi lagi atas beberapa butir kompetensi. Di sini hanya akan dibicarakan subkompetensi 2.1., yaitu memberikan layanan bimbingan kepada individu (siswa) yang terbagi atas tujuh butir kompetensi yaitu :
2.1a.   Menyelenggarakan layanan artikulasi
2.1b.   Menyelenggarakan layanan orientasi.
2.1c.   Menyelenggarakan layanan informasi.
2.1d.  Menyelenggarakan layanan inventarisasi data pribadi.
2.1e.   Menyelenggarakan layanan penempatan.
2.1f.   Menyelenggarakan layanan referral.
2.1g.   Menyelenggarakan layanan tindak lanjut dan penilaian.

Untuk mencapai masing-masing butir kompetensi tersebut perlu diberikan sejumlah pengalaman belajar. Pengalaman belajar yang akan diberikan dalam mata kuliah Praktik Pemahaman Individu Teknik Testing adalah pengalaman belajar untuk mencapai butir kompetensi 2.1d yaitu menyelenggarakan layanan inventarisasi data pribadi.
Dari uraian tersebut maka jelaslah bahwa mata kuliah Praktik Pemahaman Individu Teknik Testing merupakan salah satu mata kuliah yang memberikan pengalaman belajar untuk mencapai salah satu butir kompetensi petugas bimbingan dan konseling di sekolah.


1. Tes Intelligensi
Maksud dan Tujuan Tes Intelligensi
Inteligensi merupakan faktor pembawaan atau faktor  dasar yang dimiliki seseorang yang ikut menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam proses belajarnya, sehingga bagaimanapun diusahakannya peralatan, kondisi, serta metode yang sempurna, pada akhirnya hasil belajar seseorang akan ditentukan oleh tingkat kecerdasan orang tersebut. Untuk mengetahuinya dapat menggunakan instrumen tes inteligensi. 
Tes intelegensi merupakan suatu teknik atau alat yang digunakan untuk mengungkapkan tarap kemampuan dasar seseorang yaitu kemampuan dalam berpikir, bertindak dan menyesuaikan dirinya secara efektif. Tes Inteligensi sebagai suatu instrumen dalam tes psikologi dapat menyajikan fungsi-fungsi tertentu. 
Tes inteligensi dapat memberikan data untuk membantu peserta didik dalam menigkatkan pemahaman diri (self-understanding),penilaian diri (self-evaluation), dan penerimaan diri (self-acceptance). Juga hasil pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi dapat digunakan peserta didik untuk meningkatkan persepsi dirinya secara maksimal dan mengembangkan ekplorasi dalam beberapa bidang tertentu.
Tes inteligensi dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama : secara individu dan kelompok. Tes inteligensi secara kelompok digunakan untuk tujuan yang lebih luas dan beragam seperti dalam seting sekolah dan militer. Sedangkan untuk situasi klinis, paling banyak digunakan tes inteligensi secara individual.
Tes inteligensi secara individual yang tidak membutuhkan penggunaan bahasa (perilaku verbal) disebut performance test. Sedangkan tes yang tergantung pada penggunaan kata-kata dan angka-angka disebut verbal test. Tes inteligensi yang paling bernilai dan dapat digunakan secara luas dalam situasi klinis adalah tes yang mengkombinasikan keduanya, tes verbal dan performa. 

Adapun tujuan dari tes intelegensi secara umum, antara lain :
1. Membantu siswa untuk memahami dirinya, sehingga para siswa mampu mengambil keputusan, perencanaan, dan pemecahan masalah secara arif dan bijaksana. 
2. Membantu Kepala Sekolah, Guru mata pelajaran, guru pembimbing, dan orang tua siswa agar mereka mengerti dan memahami anak didiknya sehingga mereka dapat menyediakan lingkungan yang memadai dan dibutuhkan anak.

Sedangkan tujuan pengukuran intelegensi antara lain :
a) Untuk tujuan seleksi
 Karena melalui tes inteligensi, faktor-faktor yang ada pada diri seseorang, termasuk faktor yang karena suatu sebab belum berkembang tetapi jelas dimiliki, ikut diperhitungkan. Sehingga, apabila penggunannya benar-benar terlaksana dengan teliti dan objektiif, maka akan dapat membantu pembimbing dalam menyeleksi individu dan menempatkannya secara tepat. 
Misalnya, secara kelompok hasil tes inteligensi dapat dipakai sebagai tes seleksi penerimaan siswa baru.

b) Untuk tujuan diagnostik
Karena melaui tes inteligensi dapat diketahui mengenai kesulitan-kesulitan yang dialami seseorang yang disebabkan oleh taraf inteligensi seseorang tersebut.

c) Hasil tes inteligensi dapat dipakai sebagai dasar penggolongan kelas secara homogin.

d) Hasil tes inteligensi disambungkan untuk bimbingan belajar. Dar hasil tes inteligensi dapat diidentifikasikan anak yang lambat belajar.

e) Hasil tes inteligensi dapat berguna untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.

f) Hasil tes inteligensi dapat disambungkan pada program pemilihan jurusan dan study sambungan.

g) Hasil test inteligensi sangat berguna untuk mengidentifikasi anak yang cerdas dan superior.

h) Apabila hasil tes inteligensi ini dilengkapi dengan data-data hasil tes kepribadian prestasi, bakat, minat dan hasil tes lain Maka semua data yang terpadu ini sangat berguna bagi kepala sekolah, guru, orang tua untuk lebih memahami anak didiknya dan mereka dapat menyediakan lingkungan yang dibutuhkan anak didiknya.



a. SPM (Standart Progressive Matric)
The Standard Progressive Matrices (SPM) merupakan salah satu contoh bentuk skala inteligensi yang dapat diberikan secara individual maupun secara kelompok. Skala ini dirancang oleh J.C. Raven dan diterbitkan terakhir kali oleh H.K lewis & Co. Ltd. London pada tahun 1960. SPM dapat diberikan secara individual maupun secara kelompok. SPM merupakan tes yang bersifat nonverbal, artinya materi soal-soalnya diberikan tidak dalam bentuk tulisan atau gambar- gambar. Karena instruksi pengerjaannya diberikan secara lisan maka skala ini dapat digunakan untuk subjek yang buta huruf sekalipun.
Tes ini dapat diselenggarakan secara individual ataupun kelompok. Tes ini bersifat non-verbal dan untuk mengukur kecerdasan orang dewasa. Raven sendiri menyebut skala ini sebagai tes kejelasan pengamatan dan kejelasan berfikir, bukan tes inteligensi umum. SPM tidak memberikan suatu angka IQ akan tetapi menyatakan hasilnya dalam tingkat atau level intelektualitas dalam beberapa kategori, menurut besarnya skor dan usia subjek yang dites, yaitu:
◦         Grade I            : Kapasitas intelektual Superior.
◦         Grade II          : Kapasitas intelektual Di atas rata-rata
◦         Grade III         : Kapasitas intelektual Rata-rata.
◦         Grade IV         : Kapasitas intelektual Di bawah rata-rata.
◦         Grade V          : Kapasitas intelektual Terhambat.
Terdiri dari 60 soal dikelompokan dalam 5 seri untuk usia 6-65 tahun tujuannya mengukur dan menggolongkan tingkat kecerdasan umum dari subjek, waktunya 30 menit.

b. APM (Advanced Progressive Matric)
Advanced Progressive Matrices (APM) merupakan salah satu alat tes non-verbal yang digunakan untuk mengukur kemampuan dalam hal pengertian dan melihat hubungan-hubungan bagian gambar yang tersaji serta mengembangkan pola pikir yang sistematis. Penyajian tes ini dapat dilakukan secara klasikal dan individu. Tes ini mengukur general factor dari spearman dan sebagian kecil spatial aptitude, inductive reasoning, dan perceptual accuracy.
Tes ini disusun oleh J.C Raven pada tahun 1943. Tes APM terdiri dari dua set dan bentuknya non-verbal. Set pertama disajikan dalam buku tes yang berisikan 12 butir soal. Set kedua berisikan 36 butir soal tes.
Untuk mengungkap kemampuam efisiensi intelektual. Tes APM ini sesungguhnya untuk membedakan secara jelas antara individu-individu yang berkemampuan intelektual lebih dari normal bahkan yang berkemampuan intelektual superior. Digunakan untuk orang normal tanpa batasan waktu. Untuk mengukur kemampuan observasi dan clear thinking. Jika tes ini dipergunakan dengan batasan waktu tertentu selama 40 menit misalnya, berarti tes ini dapat diketahui untuk kecepatan dan ketepatan kemampuan intelektual.
Tujuan tes ini adalah untuk mengatur tingkat intelegensi, di samping untuk tujuan analisis klinis.

c. CFIT (Culture Fair Intelligence Test)
Menurut manual aslinya, Tes Kecerdasan Culture Fair dirancang sedemikian rupa, sehingga pengaruh kelancaran verbal, kondisi budaya, dan tingkat pendidikan terhadap hasil tes diperkecil (Cattell, 1973).
Tes kecerdasan Culture Fair berusaha menghindari antara lain: unsur-unsur (1) bahasa, (2) kecepatan, dan (3) isi yang terikat budaya. Tes ini diciptakan oleh Cattell pada ahun 1920-an, mengalami beberapa kali revisi dan penelitian untuk mengetahui tingkat validasi. Dalam tahun 1949, skala culture fair mengalami revisi, dan hasilnya tetap dipakai sampai sekarang, mengalami sedikit revisi pada tahun 1961.

Tujuan utama rancangan dan susunan tes ini adalah :
a. Menciptakan instrumen yang secara psikometria sehat, berdasar teori yang komperehensif, dengan validitas dan reliabilitas semaksimal mungkin.
b. Memperkecil pengaruh budaya-budaya dan kondisi masyarakat yang tidak relevan, tetapi tetap mempergunakan atau mempertahankan kegunaan prediktif untuk berbagai tingkah laku konkrit.
c. Pelaksanaan penyajian dan penyekoran yang sangat mudah dan penggunaan waktu tes yang relative ekonomis. (Sutarlinah S, 1983)

Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor kemampuan mental umum atau kecerdasan.
1.   Skala 1 = untuk anak usia 4 – 8 tahun, dan individu yang lebih tua yang mengalami cacat mental.
2.   Skala 2 = untuk anak usia 8 – 14 tahun dan untuk orang dewasa yang memiliki kecerdasan dibawah normal.
3.   Skala 3 = untuk usia sekolah lanjutan atas dan orang dewasa dengan kecerdasan tinggi.

d. WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale)
Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) tes adalah instrumen klinis utama yang digunakan untuk mengukur kecerdasan orang dewasa dan remaja.WAIS asli (Formulir I) diterbitkan pada bulan Februari 1955 oleh David Wechsler , sebagai revisi yang Wechsler Bellevue Intelligence-Skala. WAIS diciptakan dengan dasar pikiran bahwa inteligensi terdiri dari aspek-aspek verbal, abstrak, numerical, dan faktor G.
WAIS ada 2 kelompok susunan tes yaitu : kelompok verbal (lisan) dan kelompok non verbal/ performance (perbuatan).
Kelompok Tes Verbal terdiri dari:
1. Informasi
Berisi 29 pertanyaan mengenai pengetahuan umum yang dianggap dapat diperoleh oleh setiap orang dari lingkungan sosial dan budaya sehari-hari dimana ia berada.
2. Pengertian
Isi subtes ini dirancang untuk mengungkap pemahaman umum.
3. Hitungan
Berupa problem hitungan yang setaraf dengan soal hitungan di sekolah dasar.
4. Persamaan
Berupa 13 soal yang menghendaki subjek untuk menyatakan pada hal apakah dua benda memiliki kesamaan.
5. Rentangan Angka
Berupa rangkaian angka antara 3 sampai 9 angka yang disebutkan secara lisan dan subjek diminta untuk mengulangnya dengan urutan yang benar. Dalam tes rentang angka ini, ada dua tes rentang angka yaitu rentang angka maju dan rentang angka mundur. Rentang angka maju, testee menirukan angka secara maju (urut) sesuai yang telah diucapkan tester. Sedangkan rentang angka mundur, tester mnirukan angka secara mundur (kebelakang) angka-angka yang telah diucapkan oleh tester.
6. Perbendaharaan Kata
Berisi 40 kata-kata yang disajikan dari yang paling mudah didefinisikan sampai kepada yang paling sulit.

Untuk kelompok tes performance adalah sebagai berikut:
1. Simbol Angka
Tes performance ini berupa Sembilan angka yang masing-masing mempunyai simbolnya sendiri-sendiri. Testee/ subjek diminta menulis symbol untuk masing-masing angka di bawah deretan angka yang tersedia sebanyak yang dapat testee lakukan selama 90 detik.
2. Melengkapi Gambar
Dalam tes performance melengkapi gambar, testee/ subjek diminta menyebutkan bagian yang hilang dari gambar dalam kartu. Gambar dalam kartu berjumlahn gambar.
3. Rancangan Balok
Dalam tes rancangan balok ini terdiri atas suatu seri pola yang masing-masing tersusun atas pola merah-putih. Setiap macam pola diberikan di atas kartu sebagai soal. Testee diminta untuk menyusun balok-balok menjadi sebuah pola yang diberikan

4. Mengatur Gambar
Berupa delapan seri gambar yang masing-masing terdiri dari beberapa kartu yang disajikan dalam urutan yang tidak teratur.
5. Merakit Objek
Terdiri dari potongan-potongan lengkap bentuk benda yang dikenal sehari-hari yang disajikan dalam susunan tertentu.
WAIS bertujuan untuk mengungkap intelligensi orang dewasa. Tujuan pemisahan verbal dan performence IQ adalah untuk keperluan diagnosa jika misalnya seseorang mendapat handicap dalam bidang verbal atau cultural.
Seperti pada semua tes psikologi, pemberian WIAS secara layak meminta penguji yang mampu, bahan-bahan yang teratur, ruangan testing yang sesuai (tenang), dan waktu yang cukup. Materi tes harus dijaga dari pandangan subjek, sampai sub test itu disajikan dalam testing. 

2. Tes Bakat
Maksud Dan Tujuan Tes Bakat
Tes bakat adalah tes yang mengungkap bakat seseorang, yang juga merupakan kemampuan intelligensi khusus. Dengan mengetahui bakat seseorang, maka proses pendidikan dapat diarahkan pada bidang-bidang yang sesuai, sehingga akan lebih mudah mencapai hasil.
Tes bakat dilakukan dengan tujuan yang berkaitan dengan bidang pendidikan dan industri. Dalam bidang pendidikan, dengan mengetahui bakat siswa maka ia dapat diarahkan sesuai dengan bakatnya tersebut agar siswa dapat mencapai prestasi sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Hasil tes bakat sangat bermanfaat khususnya pada saat penjurusan, baik di SMA maupun SMK, dan untuk menentukan pilihan fakultas atau jurusan yang diinginkan di perguruan tinggi.
Dalam bidang industri, bakat seseorang perlu diketahui apakah ia tepat menduduki jabatan tertentu. Hasil tes bakat bisa membantu suatu perusahaan atau lembaga untuk menempatkan karyawan atau calon karyawan pada posisi yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan.
Dengan tes bakat dapat diramalkan bakat-bakat seseorang dalam berbagai bidang atau dalam hal pelajaran, pekerjaan yang dipilihnya, serta kesuksesan-kesuksesan bekerja di masa datang
Oleh karena itu apabila tes bakat itu diberikan pada awal sebelum seseorang individu memilih suatu jurusan sekolah atau pekerjaan tertentu maka akan dapat dipastikan akan dapat menghemat biaya dan waktu yang terbuang akibat tidak tepatnya seseorang individu memilih suatu sekolah atau lapangan pekerjaan. Orang yang dapat memilih, meyesuaikan dengan pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya akan membuat seseorang tersebut mempunyai semangat kerja yang tinggi dan kepuasan kerja akan tercapai. Sebaliknya seseorang individu yang dipaksa atau terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bakatnya akan menimbulkan kelesuan kerja, semangat kerja rendah, ketidakpercayaan pada diri sendiri, banyak membuat kesalahan-kesalahan dan menimbulkan frustrasi bagi individu yang bersangkutan.

Tes bakat memiliki tujuan, antara lain:
a. Untuk membantu merencanakan dan membuat keputusan mengenai pilihan pendidikan maupun pekerjaan,
b. Untuk mendiagnosa masalah belajar yang dialami seseorang,
c. Sebagai sarana untuk mengetahui sedini mungkin bakat-bakat yang dimiliki seseorang.
a. DAT (Differential Aptitude Test) 
Tes ini berusaha untuk menentukan ke arah manakah kecenderungan bakat seseorang itu. Dari hasil tes tersebut dapat diperoleh skor seseorang dari masing-masing sub tes, yaitu:
1. Tes Kemampuan Verbal (Verbl Reasoning)
Sebagai kemampuan memberikan pengertian dalam hal bahasa. Untuk mengetahui seberapa jauh seseorang dapat mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. Selain itu untuk mengetahui seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan memecahkan masalah-masalah yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata.

2. Tes Kemampuan Numerik (Numerical Reasoning)
Sebagai kemampuan dalam hal hitungan angka. Untuk mengetahui seberapa baik seseorang dapat mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Selain itu, seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan memecahkan masalah-masalah dengan angka-angka.

3. Tes Penalaran abstrak (Abstract Reasoning)
Isi subtes ini dirancang untuk mengungkap pemahaman umum testee. Kemampuan dalam memberikan pengertian dan pemahaman materi yang bersifat abstrak.

4. Tes Kecepatan dan Ketelitian (Clerical speed and accurary)
Kemampuan di dalam hal kecepatan dan ketelitian. Tujuannya adalah untuk  mengukur kecepatan memberi jawaban atau tanggapan dalam suatu persepsi sederhana, mengungkap kecepatan persepsi, mengingat dengan cepat, kemampuan memberi tanggapan. Untuk mengetahui seberapa cepat dan teliti seseorang dapat menyelesaikan tugas-tugas tulis menulis, pekerjaan pembukuan atau ramu meramu yang sangat diperlukan di kantor- kantor, laboratorium, perusahaan dagang, gudang, dan tempat- tempat lain. 

5. Tes Pengertian Mekanik (Machanical Reasoning)
Kemampuan di dalam hubungannya dengan permesinan. Mengukur aspek daya penalaran di bidang kerja mekanis dan prinsip fisika, yang merupakan salah satu faktor intelligensi dalam arti luas. Penyajian tes ini dapat dilakukan secara perseorangan maupun kelompok. Waktu yang ditentukan untuk mengerjakan tes ini ialah 30 menit. Sedangkan waktu untuk instruksi sekitar lima sampai dengan sepuluh menit.
Tujuan tes ini untuk mengetahui kemampuan khusus dalam bidang kemampuan mekanik. Dengan mengetahui kemampuan ini maka dapat ditentukan jurusan studi maupun untuk memilih pekerjaan. Bidang pekerjaan yang membutuhkan kemampuan ini antara lain tukang kayu, ahli mesin, pemelihara mesin, dan perakit (assembler). Tes ini juga untuk mengetahui seberapa mudah seseorang memahami prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alamiah sebagaimana terlihat dalam kejadian sehari-hari yang berhubungan dengan kehidupan. Untuk mengetahui seberapa baik seseorang mengerti tata kerja atau hokum-hukum, yang berlaku dalam perkakas-perkakas sederhana, mesin-mesin, dan peralatan-peralatan.

6. Tes Ruang Bidang (Space Relation)
Kemampuan dalam hubungannya dengan ruang. Tes ini mengukur kemampuan berpikir secara visual dari bentuk geometris memahami gambar dari dua dimensi untuk menjadi bentuk tiga dimensi. Tes ini dapat disajikan secara individual maupun secara klasikal. Waktu penyajian total waktu sekitar delapan menit dengan perincian tiga menit untuk memberikan penjelasan dan lima menit untuk mengerjakan soal.

7. Pemakaian Bahasa: Mengeja (Language Usage)
Mengukur kemampuan membedakan tata bahasa yang baik dan benar, tanda baca, dan penggunaan kata, serta untuk mengukur seberapa baik seseorang mengeja kata dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia.
Adapun tujuan dari DAT adalah :
1) Untuk mendapat prosedur penilaian yang ilmiah, terintegrasi, dan 
standard.
2) Untuk melakukan prediksi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan.
3) untuk pelajaran atau pekerjaan/profesi yang memerlukan persepsi 
hubungan antara benda-benda.
4) untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu agar lebih 
spesifik (kemampuan khusus).

b. Kraeplin
Tes kraeplin adalah tes bakat tuggal. Tes kraeplin ini untuk mengetahui bakat (kemampuan) seseorang dalam bekerja. Faktor- factor yang diungkap dalam tes ini adalah:
a) Kecepatan kerja (Panker), yang ditunjukan pada berapa prestasi yang dicapai dalam mengerjakan tes.
b) Ketelitian kerja (Tianker), yang ditunjukan pada berapa kesalahan (salah+loncatan) yang diperbuatdalam mengerjakan tes.
c) Keajegan kerja (Janker), yang ditunjukan dengan irama kerja seseorang di dalam mengerjakan tes.
d) Ketahanan kerja (Hanker), yaitu ditunjukan oleh garis ausdaner dalam mengerjakan tes. 

3. Tes Minat 
Maksud Dan Tujuan Tes Minat
Pada dasarnya para ahli psikologi sepakat bahwa minat dipandang sebagai aspek non kognitif yang sama sekali berbeda dengan aspek kognitif. Sebagai konsekuensinya,untuk mengetahui minat seseorang digunakan instrumen (yang antara lain berupa tes) yang harus tidak mengungkap aspek kognitif, yang biasanya disebut kemampuan. Sejarah tes minat dimulai tahun 1921 dengan diterbitkannya tes minat yang pertama, yakni Carnegie Interest Inventory.
Minat merupakan faktor dari dalam individu yang menunjuk pada typical performance. Dalam konteks pekerjaan, tampilan ini mengacu pada senang atau tidak senangnya individu pada suatu bidang pekerjaan. Seseorang akan menjadi berhasil apabila dirinya memiliki kemampuan yang disertai dengan minat yang tinggi terhadap suatu pekerjaan yang diembannya.

Tujuan dari tes ini, antara lain :
1) Untuk menunjukkan jabatan-jabatan bagi studi lebih lanjut. Jabatan-jabatan ini meliputi tipe kerja yang disukai, atau yang ditampilkan oleh seorang siswa. Tetapi disamping itu siswa harus memperhatikan tentang kemampuan yang dimilikinya.
2) Untuk menguji seseorang yang telah memilih suatu jabatan tertentu. Kuder Preference Record khususnya dipergunakan sebagai suatu pemeriksaan apakah pilihan jabatan seseorang itu sesuai dengan tipe kesukaan yang dikerjakannya. Apabila jabatan ini tidak memuat kegiatan-kegiatan yang biasanya ia sukai, maka berarti bahwa pilihannya itu salah.
3) Untuk mengcek pilihan karier sebelum meningkat lebih lanjut. Mengetahui derajat kedalaman minat sehingga dapat dipergunakan sebagai kontribusi untuk mencapai hasil pendidikan.


a. Tes Minat Jabatan Lee-Thorpe
Tes ini dirancang untuk mengukur dan menganalisa minat jabatan individu. Tujuan utama dari tes ini adalah untuk membantu menemukan minat jabatan dasar dari individu. Dalam tes ini, terdapat 6 bidang minat yaitu:
1. Bidang Pribadi social/ personal-social, mencakup pekerjaan- pekerjaan yang menuntut hubungan dan bidang layanan.
2. Bidang Natural/ natural, mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan di alam terbuka dan yang member banyak kesempatan untuk bergaul dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan.
3. Bidang Sains/ science, mempuyai minat yang tinggi untuk memanipulasi lingkungan fisik.
4. Bidang Seni/ art, mempunyai minat yang berhubungan dengan seni, keinginan untuk meningkatkan estetika melalui kehidupannya sehari-hari.
5. Bidang Bisnis/ business, mempunyai minat dalam bidang perniagaan dan kontak social (ada nuansa laba/ rugi)
6. Bidang Mekanik/ mechanical, mempunyai minat yang memerlukan pemahaman tentang mekanik dan permesinan. 

Dalam tes minat jabatan ini terdapat 3 tipe minat, yaitu:
1. Tipe Verbal (+), ditandai dengan penekanan pada penggunaan kata- kata baik tertulis maupun lisan dari suatu dunia kerja.
2. Tipe Manipulatif (O), ditandai dengan penggunaan tangan dalam bekerja/ tipe trampil. Aktivitasnya meliputi perbuatan kreatif maupun tugas rutin di bawah pengarahan supervisor.
3. Tipe Komputatif (-), tipe yang bekerja dengan angka. Tipe ini merupakan gabungan pengguaan kata dan benda yang berisi item-item yang berhubungan dengan symbol atau konsep angka. 

2 komentar: